Claudia tahu ini tidak masuk akal. Sejujurnya, semua yang terjadi di hidupnya akhir-akhir ini, tidak ada yang masuk akal.

Ia tiba-tiba mengikuti acara kencan yang hadiahnya uang. Dirinya yang harus tinggal di satu rumah bersama sebelas orang yang mana baru ia kenal juga di hari yang sama—ketentuan dari acara kencan itu. Hari-harinya yang diawasi kamera hampir selama 24 jam, lagi-lagi karena acara kencan yang ia ikuti.

Tidak ada yang masuk akal. Siapa juga yang mau mengikuti acara kencan? Mendapatkan hadiah uang atau tidak, mendapatkan jodoh atau tidak, mengikuti acara kencan dan bertemu orang-orang yang tidak dikenal… itu aneh. Sangat aneh. Namun ucapan temannya, Steffi—juga teman Claudia yang membuatnya jadi mengikuti acara kencan ini—terus terngiang di telinga Claudia. Lumayan sumpah, kalo menang lo dapet duit. Kalo gak menang juga kan lo tetep dapet cowok, dapet banyak kenalan. And, this is safer than main dating apps juga tau, Clau!

Aman darimananya!

Lebih baik Claudia bermain aplikasi kencan daripada berada di posisi terpojok sekarang, karena ulah seorang laki-laki yang juga salah satu kontestan acara kencan ini. Namanya Calvin, kontestan tertua dan dalam sekali lihat, Claudia yakin, dirinya dan seluruh kontestan memiliki pemikiran yang sama.

Buat apa orang old money seperti Calvin mengikuti acara kencan yang hadiahnya adalah uang?

Tidak mungkin Calvin mengikuti acara ini karena ia benar-benar ingin mencari jodoh. Orang kaya kan, biasanya menikah dengan yang sesama kaya, untuk membuat harta mereka yang sudah melimpah semakin tumpah ruah. Claudia yakin, pasti Calvin mengikuti acara ini hanya untuk social experiment. Or maybe even for his masters’ thesis, if he’s doing his masters right now.

Namun semua perkiraan Claudia rupanya salah. Ketika hari ini, pagi hari kedua mereka tinggal bersama, Calvin menemui Claudia sebelum kamera di dalam rumah siap berputar dan mereka semua menjalani hari mereka. Kemudian ia memberitahu Claudia tentang idenya yang menurut dirinya sendiri adalah ide yang jenius, dan menurut Claudia adalah ide yang benar-benar gila.

Calvin mengajak Claudia untuk bersekongkol. Menjadi satu tim. Saling memilih satu sama lain dan mereka menjadi pasangan pada akhir acara supaya menang dan mendapatkan uang. Juga, selama acara berpura-pura untuk menyukai satu sama lain, supaya para kontestan juga tim produksi semakin terkecoh.

Ternyata Calvin sama seperti para kontestan lainnya. Ia juga ingin menang meski penampilannya terlihat seperti seseorang yang menggunakan lembaran uang sebagai tisu. Berlebihan, but you get the point.

“Jadi? Gimana Clau?” pertanyaan Calvin membuat Claudia yang terjebak dalam lingkaran pikirannya langsung tersadar.

Sudah Claudia bilang, hidupnya akhir-akhir ini benar-benar tidak masuk akal. This is the least thing that makes sense in her life right now… or not?

“Kalo ketauan gimana, Ko?”

Yang menjadi pertanyaan bagi Claudia juga, kenapa harus dia? Di antara kelima kontestan perempuan yang ada, kenapa harus Claudia yang Calvin ajak untuk bersekongkol?!

“No one said on the rules we can’t formed a team.” jawab Calvin dengan santai.

“Kenapa gue…?” tanya Claudia lagi. “Date pertama aja gue bukan pasangan lo.”

“If I can choose, I would definitely choose you yesterday.” jawab Calvin dengan mantap, tidak ada sedikitpun kegugupan dan ia langsung menjawab pertanyaan Claudia pada detik berikutnya. Jawaban Calvin membuat hati kecil Claudia sedikit berdesir, bertanya-tanya apa alasan Calvin selain ingin menang juga karena Claudia menarik perhatiannya sedikit?

“Eh—”

Suara dari belakang mengundang Claudia juga Calvin untuk menoleh. Rupanya itu Joanne, salah satu kontestan juga yang tak sengaja datang ke dapur karena ingin membuang sampah. Iya, Claudia dan Calvin sedang melakukan percakapan penting (atau tidak penting?) mereka di ujung dapur, dekat dengan pintu keluar menuju halaman belakang rumah. Ini adalah salah satu tempat yang tak terjangkau kamera.